Kamis, 09 April 2009

KERTAS PR RASTY

Kegembiraan keluarga Rasty kembali hilang. Semangat hidup Rasty yang beberapa hari lalu terlihat hidup kini kembali redup. Kembali ke Rasty yang selalu murung, selalu menyendiri dan Rasty yang hanya bicara seperlunya kepada Papa dan Mamanya. Seperti pagi itu. Mamanya yang seorang Sekretaris di sebuah perusahaan ternama kembali melihat Rasty bangun pagi dengan muka kusut nan sembab. Berkas-berkas kantor yang sudah di bawahnya kembali di simpan diatas meja. Naluri keibuannya mendorong sang mama menghampiri Rasty. Putri tunggalnya itu. “Rasty, sayang. Ada apa lagi sekarang?”, dengan lembut mama Rasty bertanya pada anaknya itu. Rasty hanya diam. Bahkan kembali tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Sedih banget. “Ayo dong sayang. Gimana mama mau tahu masalah kamu kalau kamunya hanya diam gitu?”. “Ma……….”, keluhan yang nyaris tak terdengar keluar dari bibir merah Rasty. “Kertas PR Rasty mana?”. Mama Rasty tertegun. Dia ngak menyangka barang yang dicari oleh putrinya itu hanya selembar kertas. Bukan barang mewah ataupun karena pengen di ajak jalan ketempat-tempat rekreasi. “Kalau cuman kertas nanti mama beliin yang banyak”. “Mama….., Rasty pengen kertas itu. Bukan minta dibeliin yang baru”. Sentak Rasty kesal lalu lari masuk kedalam kamarnya. Sayup-sayup mama Rasty mendengar suara tangis dari Rasty. Mama Rasty jadi penasaran. Ada apa sih dengan kertas PR itu? Kok Rasty merasa kehilangan banget. Apa mungkin di kertas itu ada nomor ponsel pacarnya? Atau nomor Pin atau nomor-nomor penting yang lain. Pagi itu terpaksa mama Rasty ke kantor dengan pikiran yang kusut memikirkan kondisi buah hatinya yang tercinta. *** Rasty jatuh sakit. Hari itu terpaksa mamanya datang langsung kesekolah Rasty. Mama Rasty ke SMP Harapan Bangsa untuk izin pada Bu gurunya. Rasty demam tinggi. Putri kesayangannya sempat mengigau dan hanya tergolek lemah dalam kamar. Hati Mama Rasty jadi bingung. Terlebih Papa Rasty masih dinas di luar kota dan belum tahu kondisi putrinya itu. Ungtunglah dokter kenalan mama Rasty segera datang. Dan memberi obat buat menurunkan panas Rasty yang tinggi. “Gimana keadaan Rasty, Dokter?”, Tanya mama Rasty ngak sabaran pengen tahu kondisi putrinya. “Tenang aja, Bu. Rasty ngak apa-apa kok. Setelah obat itu bekerja maka panas Rasty akan turun. Dia cuman kelelahan dan banyak pikiran”. “Terima kasih banyak, Dokter”. Mendengar dokter bilang kalau Rasty baik-baik saja membuat hati mama Rasty sedikit tenang. Tak lama kemudian dokter Rizal pamit pulang. Tinggal Rasty dan mamanya yang dengan setia duduk di pojok tempat tidur. “Kamu dah baikan Rasty?”, “Masih sedikit pusing, Ma”. Suara merdu Rasty masih terdengar serak. Entahlah sebenarnya pikiran apa yang membebani pikirannya itu. “Ceritakanlah ke mama, N+ak. Sebenarnya ada apa? Kalau mama bisa Bantu nanti mama usahakan”. “Benarkah itu Ma……….”, secercah sinar harapan kembali menyala di bola mata indah Rasty. “Iya, Sayang. Apapun itu!” “Ma….Rasty cuman pengen kertas PR Rasty ketemu. Cuman itu” “tapi, Sayang. Mungkin mama udah buang ketempat sampah. Bersama berkas-berkas bekas mama”. “Rasty cuman mau kertas itu, Ma. Bukan minta di beliin barang mewah atau yang lainnya”. Rengek Rasty manja. Hati mama yang mana yang tidak akan terenyuh mendengar permintaan putrinya yang teramat sederhana seperti itu. Saat itu juga mama Rasty berjalan menuju ujung kompleks. Disanalah kemarin dia membuang tumpukan kertas-kertasnya. Moga aja kertas PR rasty masih ada disana. Panas mahatari yang siang itu teramat terik tidak diperdulikan oleh mama Rasty. Tak mengenal jijik mama Rasty terus mengorek-ngorek gundukan sampah. Akhirnya kertas yang dicari ketemu juga. Kertas PR Rasty. Sekilas mama Rasty memperhatikan kertas yang sudah lusuh itu. Tak ada yang aneh disana. Hanya lembar jawaban Rasty yang sudah dicoret-coret oleh gurunya. Bergegas mama Rasty pulang ke rumah dan memberikan kertas itu kepada Rasty. “Makasih banyak Ma…….” Teriak Rasty girang melihat kertas PRnya kembali. Seperti memeluk benda yang teramat berharga Rasty terus mendekap kertas itu. Hal ini membuat mamanya jadi penasaran. “Rasty, sebenarnya ada apa dengan kertas PR itu sayang. “ “lihat…… Ma. Lihat dan baca tulisan kaki ini”, Rasty kemudian menunjukkan catatan kecil yang ditulis oleh gurunya di halaman bawah kertas. Semua orang adalah cerdas. Termasuk kamu Rasty. Itu kalau kamu mau menghargai dirimu sendiri. “Kata-kata dari guru Rasty ini yang membuat kertas ini teramat berarti buat Rasty, Ma. Kata inilah yang memnbangkitkan semangatku, menumbuhkan percaya diriku yang kadang hilang. Aku mulai sadar. Sebodoh apapun, sejelek apapun, atau semiskin apapun kita kudu menghargai diri. Termasuk orang lain”. Mata mama Rasty berkaca haru. Benar kata guru Rasty. Betapa perlunya menghargai diri dan orang lain sekecil apapun itu. Hal yang jarang mama Rasty ajarkan kepada putri tunggalnya itu.

Tidak ada komentar: