Senin, 30 Maret 2009

PRAHARA DI TOILET MALL

Mataku terus menatap sepasang Ikan Bitte yang lagi bercumbu di dalam topleks acar yang kusulap menjadi akuarium mungil. Sesekali mulut Ikan- Ikan kecil itu bercuap-cuap dan mengarah padaku seakan berkata, “Oii……gadis cantik! Jangan tatap gue dong. Malu deh pacaran Di intip-intip gitu!”. Ah, dasar ikan. Semua orang ngak tahu apa yang sedang membuatku puyeng tujuh keliling. Termasuk kedua ikan itu ngak tahu. Ah……aku belum bisa melupakan kejadian yang menjengkelkan tadi siang. Niatku jalan-jalan ke Mall untuk melepas semua beban malah numpuk beban baru lagi. Ngak sengaja aku liat Rivaldo keluar dari tolilet Mall. Kalau keluar dengan cewek sih mungkin rasa kesalku ngak amit-amit kayak gini. Tapi yang aku lihat dia keluar dengan bergandengan tangan dengan seorang cowok yang cakepnya minta…..ampun!. Wih, jeruk makan jeruk gitu deh. “Aduh……..Brenda. Udah deh. Jangan diambil hati. Lagian belum tentu juga Rivaldo cowok gituan”. Tak sadar Cristin sudah berdiri disampingku. Tepukan halus tangannya dipundakku membuatku kaget sesaat. “Kamu ngak lihat Rivaldo sih, Cris. Dia itu keluar dari toilet Mall sambil pegangan tangan. Mesrahhhhh banget!”. Untung saat-saat kritis seperti itu Cristin hadir memberikan pundaknya tempatku bersandar pasrah. “Udah deh. Gini aja. Gimana kalau kita selidiki Rivaldo. Kalau perlu kita libatkan tim Termehek-Mehek atau tim orang ketiga. Yach…… untuk ngebuktiin kecurigaan kamu itu. Gimana? Mau ngak?” “Apa perlu gitu?” jawab Brenda merasa ngak yakin dengan ide Cristin. “Kita coba aja dulu. Pokoknya besok kita ikutin kemanapun Rivaldo pergi. Pokoknya nih mulai dia bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Kita terus pasang mata gitu. Gimana?” “Ihh, capek deh. Masa biar Rivaldo mau pipis aja kita pelototin juga.” “Ya ampun, Brenda. Siapa juga yang bilang gitu. Yach ngak lah. Maksud aku tadi kita tuh ikutin aktifitas Rivaldo. Dipa pergi kemana. Mau kemana dan ketemu dengan siapa aja”. “Ohh…….” Mulutku membulat membentuk huruf bundar itu. Ah memang Cristin sahabatku yang paling baik and pengertian akan kegundahan hatiku. Hari itu dengan hati sedikit lesu kami melangkah pulang ke rumah untuk menyusun strategi perang buat besok minggu. *** Panas, debu, dan keringat yang membanjir membuat niatku nyelidikin Rivaldo mulai goyah. Rasanya gue dah nyerah deh. Udah beberapa jam aku dan Cristin duduk didepan rumah Rivaldo seperti orang bodoh. “Sabar dikit kenapa she, Brenda. Bentar juga Rivaldo keluar sarang”. “Iya tapi sampai kapan? Duh…..capek banget nih. Kamu juga sih. Buru-buru kayak gini makanya pake deororanpun kelupaan. Mana panas banget. Keringat juga kayak banjir bandang nih”. Ketekku benar-benar basah saking panasnya. Hari itu andai bukan gue yang punya urusan udah sejak tadi aku cabut dari tempat menyebalkan itu. Fiuh…… Benar juga kata Cristin barusan. Pagar besi rumah Rivaldo perlahan terbuka. Rivaldo tampak makin gagah di atas motor gedenya. Rupanya cowok itu ngak sadar kalau dekat rumahnya ada dua pasang mata indah lagi membelalak mengawasi gerak-geriknya. “ Cepatan dong. Kok bengong aja. Tuh Rivaldonya dah berangkat. Tunggu apalagi. Yuk kita ikutin dia”. Cristin mengagetkan saya yang sempat bengong tak tahu harus berbuat apa. Gelagapan saya segera terbang keatas sadel motor yang dikendarai Cristin. Cukup lama juga Rivaldo mutar-mutar di ruas jalan kota Makassar . Tak lama kemudian motor gede yang dipakai Rivaldo memutar masuk ke sebuah lorong gang. Belok kanan, belok kiri, lalu lurus sebentar dan belok lagi. Lagi-lagi belok lagi. Entah berapa kali. Yang pasti seperti ular yang berkelok-kelok. Didepan sebuah rumah yang bergaya toraja motor Rivaldo berhenti. Dari jarak yang ngak begitu jauh kulihat sosok yang tempo hari aku lihat jalan bareng bersama Rivaldo di toilet Mall. Cowok yang kerennya minta ampun itu menghampiri Rivaldo. Rasanya sepasang kupingku terbakar abis melihat kedua cowok itu ngobrol dengan mesrahnya. Duh, rasanya gue ngak tahan. Apa yang aku dan Cristin lihat kemudian? Rasanya petir Dewa ZEUS udah menyambar abis aku saat itu. Dengan santainya dua mahkluk yang sama-sama cowok itu cipika-cipiki. Pengen rasanya gue remezz abis Rivaldo. Bisa-bisanya dia tinggalin cewek bahenol kayak aku hanya demi seorang cowok. Atau jangan-jangan aku selama ini hanya dijadikan topeng pelindung dengan sifatnya yang gituan? Entahlah. “Cris……….” Mulutku ngak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang gue lihat benar-benar menyakitkan hati. Duh rasanya tanah becek yang aku injak udah terbang berhamburan. Tubuh sintalku tiba-tiba limbung. Untung Cristin dengan cepat membopong tubuhku agar tak jatuh bedebuk di atas tanah. “Kuatkan hatimu, keraskan taimu Brenda. Pokoknya kita lihat apa sebenarnya yang terjadi. Kalau memang Rivaldo adalah cowok yang seperti yang kita duga maka kamu harus tabah putus dengan dia” “Cris, tapi kenapa harus Rivaldo?” “ Udah deh. Lihat mereka. Mereka berdua mulai berangkat tuh. Yuk kita samperin aja sekarang”. Aku dah terlanjut iffill dengan Rivaldo. Pokoknya hari ini juga aku harus ucapin good bye Rivaldo. Ternyata kamu bukan cowok yang cocok buat aku. *** Ombak sesekali memecah Pantai Losari. Tempat itu benar-benar romantis bagi sepasang kekasih yang memadu kasih. Ditempat itulah Rivaldo menghentikan motornya. Sangat jelas dimataku kalau Rivaldo menggandeng tangan cowok itu menuju sebuah warung jagung bakar yang berjejer dipinggir pantai itu. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung datangin tempat itu. Kedatanganku yang tiba-tiba membuat Rivaldo kaget sesaat. Tapi aku ngak peduli lagi. Dimulutku sudah beribu-ribu kata yang siap aku semprotkan. “Oh…..jadi ini jawaban kamu. Kenapa selama ini kau mulai dingin kepadaku” “Dengar dulu Brenda. Kamu jangan salah paham dulu dong”. “Ngak perlu kale. Semua udah jelas. Jadi ini nih penyebab semua ini?” cowok yang berdiri disamping Rivaldo gelagapan kutatap penuh emosi. Pengen rasanya gue karate kedua cowok yang memuakkan itu. “Brenda…. Ini Simon. Sepupuku yang baru tiba dari luar negeri. Wajar dong kalau kami lepas kangen”. “Hah?! Sepupu kamu?”, aku dan Cristin masih ngak percaya dengan penjelasan Rivaldo. Iya sih. Setelah kuperhatikan lekat-lekat ada kemiripan diantara mereka. Cowok yang bernama Simon itu kulitnya sedikit lebih bening. “Benar kok Brenda. Rivaldo sepupu saya. Ngak bakalan banget kami gituan. Kami masih cowok normal kok. Lagian Rivaldo sudah cerita soal kamu ke aku. Dia cinta mati ke kamu kok. Percaya deh”. Dengan logat bahasa yang campur aduk cowok yang bernama Simon itu berusaha meyakinkan aku. Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Rasa malu dan senang berbaur jadi satu. Hanya tatapan mata mesrah yang bisa mengungkapkan permohonan maafku. Akhirnya Rivaldo yang kusangka terbang jauh kini kembali kuraih lagi. Terima kasih cinta.

Tidak ada komentar: